Tepat di tanggal 07 Juli 2011, kami menginjakkan kaki di rumah baru Komplek Permata Buah Batu Bandung. Artinya, mulai saat ini kami tidak lagi akan bergantung kepada orang tua. Awalnya, kami berencana membeli rumah saja, tapi papaku menyarankan kami untuk mengontrak. Karena kalau mengontrak, jika seandainya kami tidak betah tinggal di rumah ini, tahun depan bisa pindah ke rumah yang lebih baik lagi. Nah, jika rasanya sudah betah di suatu komplek, nanti baru deh beli. Gitu kata papa. Untungnya Abi juga sependapat.Jadilah kami mengontrak di rumah ini, bersama adik perempuanku yang kebetulan kampusnya dekat dari sini.
Rumahnya minimalis tipe-70, ada 3 kamar tidur. Baru dibangun 1 tahun sepertinya karena komplek ini juga masih baru. Yang punya rumah adalah seorang ibu Ustadzah dan suaminya yang pensiunan PNS. Kami merasa cocok dengan rumah , dengan yang punya dan juga harganya yang 22jt/tahun.
Mencari rumah benar-benar butuh perjuangan. Bayangin aja, selama 1 bulan aku harus nginep di kosan adik dan suami nginep di rumah teman, makasih ya Firman. Tidak lama kemudain ortu pun nyusul karena kebetulan adik bungsuku juga mau liburan di Bandung. Beberapa hari kami nginep di hote.
Yak, kembali ke topik. Intinya kami sudah jatuh cinta dengan rumahnya.Karena sudah lengkap dengan pagar, taman kecil yang aku idam-idamkan. Karena rumahku adalah ruko yang pastinya tidak punya taman. Dari dulu aku pengen banget tinggal di rumah yang ada tamannya. Wah ternyata walaupun ngontrak, tinggal di rumah baru itu benar-benar butuh biaya besar. Beli kulkas, peralatan dapur, karpet, meja makan mungil dan untungnya sofa tamu dibeliin sama mama, asyiiiik.. makasih mama.
Mulailah aku menjalani kehidupan sebagai seorang istri seutuhnya. Aku bertekad untuk tidak akan pakai ART. Aku kerjakan semua, memasak, nyuci baju, nyetrika, bersih-bersih rumah. Terasa saangat menyenangkan. Suami masih dalam rangka mermpelajari situasi dunia bisnis di Bandung. Karena kami berencana membuka usaha baru disini. Tapi memang tidak gampang, keputusan harus dipertimbangkan semasak-masak mungkin bila tidak mau pulang kampung sebagai pecundang. Kami bisa, ya kami pasti bisa!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar